INDIVIDU, KELUARGA dan MASYARAKAT


INDIVIDU, KELUARGA dan MASYARAKAT



Nama :

M.Agus Marfiansyah             : B74219048
M.Nabil Alfi                           : B74219050
M.Nizar Qusurur                     : B74219051

Kelas : MD/D2

Nama Dosen :
Baiti Rahmawati, M.Sos

FAKULTAS DAKWAH dan KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2020



KATA PENGANTAR
            Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan anugerah kami dapat menyelesaikan makalah tentang “Individu, Keluarga dan Masyarakat”ini.
            Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan nabi besar kita, nabi Muhammad SAW yang telah menunjukan kepada kita semua jalan yang lurus berupa ajara agama Islam yang sempurna dan menjadi panutan  terbesar bagi seluruh alam semesta.
            Penulis sangat bersyukur karena dapat menyelesaikan makalah yang menjadi tugas IAD-ISD-IBD dengan judul “Individu, Keluarga dan Masyarakat”. Disamping itu kami mengucapkan banyak trimakasih kepada semua pihak yang telah membantu kami, terutama pihak perpustakaan yang telah memberikan pelayanan sehingga kami dapat menemukan  selama pembuatan makalah dan semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca.






DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………
BAB I MANUSIA
A.    Pengertian manusia…………………………………….
B.     Perilaku manusia………………………………………
C.     Cara terbentuknya perilaku…………………………….
BAB II INDIVIDU
A.  Pengertian individu....................................................................................
B.  Pandangan-pandangan manusia sebagai makhluk individu.......................
C.  Berbagai aspek relasi individu dengan lingkungan sosial..........................
D.  Karakteristik individu................................................................................
BAB II KELUARGA
A.    Pengertian keluarga.....................................................................................
B.     Proses Terbentuknya Keluarga......................................................................
C.    Fungsi Keluarga.............................................................................................
D.    Tugas Pokok Keluarga...................................................................................
E.     Faktor-faktor terbentuknya keluarga.............................................................
BAB III MASYARAKAT
A.    Pengertian Manusia..................................................................................
B.     Perilaku Manusia……………………………………….
C.     Cara Terbentuknya Perilaku……………………………
D.    Pengertian Masyarakat…………………………………
















BAB I
MANUSIA
A.    Pengertian Manusia
            Menurut kamus besar bahasa indonesia manusia adalah makhluk yang berakal budi/insanulkamil artinya makhluk yang paling sempurna.[1]
a)      Definisi Manusia menurut para ahli sebagai berikut:
1.      Max Scheler 1874-1928, seorang filsuf Jernan, menjelaskan bahwa manusia tidak mempunyai dunia keliling yang terbatas seperti dunia hewan. Meninjau istilah von Mexkuhl, "Umwelt", manusia mempunyai dunia dan bagi manusia dunia ini terbuka adanya. Manusia tidak mempunyai insting dan organ-organ yang terbatas pada satu millieu saja. Dunia manusia luas dan terbuka. Menurut Max Scheler ini disebabkan karena manusia mempunyai kemampuan untuk menangkap sesuatu yang bernama "objek". Ia mampu untuk mengambil jarak dari barang sesuatu. Ia juga mampu memisahkan antara objek dan subjek. Objek adalah  hal, perkara, atau orang yang menjadi pokok pembicaraan dan subjek adalah pokok pembicaraan; pokok bahasan.
2.      Spinoza, Goethe, Hegel, dan Marx: Manusia adalah makhluk hidup yang harus produktif (suatu kegiatan yang menghasilkan suatu yang menguntungkan atau bermanfaat bagi dirinya atau kegiatan yang di penuhi dengan hal-hal yang bermanfaat), menguasai dunia di luar dirinya dengan tindakan mengekpresikan kekuasaan manusiawinya yang khusus, dan menguasai dunia dengan kekuasaannya ini. Karena manusia yang tidak produktif adalah manusia yang reseptif (terbuka dan tanggap terhadap pendapat, saran dan anjuran orang.) dan pasif (kalimat yang subjeknya dikenai suatu perbuatan atau aktivitas.), dia tidak ada dan mati.
3.      Notonagoro mensifatkan manusia sebagai makhluk yang monopluralistik, dalam arti ia tersusun atas jiwa dan raga, bersifat perorangan dan sosial, serta berkedudukan kodrat berdiri· sendiri dan pada saat yang sama ia adalah makhluk Tuhan.[2]
b)      Definisi manusia menurut islam
Manusia adalah makhluk paling sempurna dan mempunyai berbagai macam kemampuan yang  diciptakan oleh Allah SWT melalui saripatih tanah > nutfah > alaqah > dan mudgah. Tidak banyak yang menjelaskan secara rinci tentang manusia tetapi ada beberapa gambaran atau rahasia yang disebutkan Allah SWT didalam Al-Quran tentang manusia sebagai berikut:
1.      al-Insan
      Secara umum, kata Insan berarti manusia. Ungkapan yang seakar dengan kata al-insan banyak dipergunakan Dalam al-Qur’an. Secara morfologis, asal kata al-insan adalah nasiya, ins, dan nasa dengan kata insan yang berarti sesuatu yang tampak dan jinak, makna ini relevan dengan sifat dan fisik manusia. Makna pertama sesuatu yang tampak ditemukan konteksnya ketika al-Qur’an sering menggunakan kata tersebut untuk menghadapkannya dengan kata jin yang berarti makhluk halus atau tidak tampak. Misalnya digunakan dalam Q.S. al-Zariyat ayat 56:
 “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. Sedangkan makna jinak relevan dengan makna seperti keramahan, kesenangan dan pengetahuan. Jika dilihat dari bentuknya, kata insan berpola fi‟lan, pola tak beraturan (suma‟iy) yang serarti dengan pola fa‟alan, pola yang beraturan (qiyasy) dan mengandung konotasi intensitas. Apabila pengertian ini dikaitkan dengan makna etimologinya, maka dapat dikatakan bahwa kata insan mengandung konsep manusia  sebagai makhluk yang memiliki keramahan dan kemampuan mengetahui yang sangat tinggi, atau dalam ungkapan lain, manusia merupakan makhluk kultural dan sosial.

2.      al-Basyar
      Dalam al-Qur’an, untuk makna manusia selain kata al-insan dipergunakan kata basyar. Al-Basyar berasal dari huruf ba, syin dan ra yang berarti nampaknya sesuatu dengan baik dan indah. Dari makna tersebut terbentuk kata karja basyara yang berarti gembira, menggembirakan, memperhatikan dan mengurus sesuatu. Istilah basyar menunjukan makna manusia pada aspek hakikatnya sebagai pribadi yang kongkrit, dengan menekankan aspek lahiriah manusia.[3]
B.     Perilaku manusia
            Perilaku manusia pada hakikatnya adalah suatu aktivitas dari Pada manusia itu sendiri, perilaku juga adalah apa yang dikerjakan oleh organisme tersebut, baik dapat diamati secara langsung atau tidak langsung Dan hal ini berarti bahwa perilaku terjadi apabila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan reaksi yakni yang disebut rangsangan, dengan demikian suatu rangsangan tertentu akan menghasilkan  reaksi perilaku tertentu. Menurut Skinner juga merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespon, maka teori skinner disebut teori “S-O-R atau stimulus organisme respon. Skinner juga membedakan adanya dua proses yaitu :
a)      Respondent respon atau reflexsive,
      yakni respon yang ditimbulkan oleh ransangan-rangsangan (stimulus) tertentu. Stimulus semacam ini disebut electing stimulation karena menimbulkan respon respon yang relative tetap. Missal: makanan yang lezat menimbulkan keinginan untuk makan, cahaya terang menyebabkan mata tertutup, dan sebagainya. Respondent respon ini juga  mencakup perilaku emosional misalnya mendengar berita musibah menjadi sedih atau menangis, lulus ujian meluapkan kegembiraanya dengan mengadakan pesta dan lain sebagainya.
b)      Operant respon atau instrumental respon,
      yakni respon yang timbul dan berkembang kemudian diikuti oleh stimulus atau perangsang tertentu. Perangsang ini disebut reinforcing stimulation atau reinforce, karena memperkuat respon. Misalnya apabila seorang petugas kesehatan melaksanakan tugasnya dengan baik (respon terhadap uraian tugasnya atau job skripsi) kemudian memperoleh penghargaan dari atasnya (stimulus baru), maka petugas kesehatan tersebut akan lebih baik lagi dalam melaksanakan tugasnya.[4]
C.    Cara Terbentuknya Perilaku
            Perilaku manusia sebagaian besar ialah perilaku yang dibentuk dan dapat dipelajari, berkaitan dengan itu Walgito (2003) menerangkan beberapa cara terbentuknya sebuah perilaku seseorang adalah sebagai berikut :
a)      Kebiasaan, terbentuknya perilaku karena kebiasaan yang sering dilakukan, misal menggosok gigi sebelum tidur, dan bangun pagi sarapan pagi.
b)      Pengertian (insight) terbentuknya perilaku ditempuh dengan pengertian, misalnya bila naik motor harus menggunakan hem, agar jika terjadi sesuatu dijalan, bisa sedikit menyelamatkan anda.
c)      Penggunaan model, pembentukan perilaku melalui ini, contohnya adalah ada seseorang yang menjadi sebuah panutan untuk seseorang mau berperilaku seperti yang ia lihat saat itu. Menurut konsep dari Lawrence Green, yang dikutip oleh Notoatmodjo (2007) bahwa perilaku dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu :
1.      Faktor predisposisi, faktor faktor ini mencakup tentang pengetahuan dan sikap seseorang terhadap sebuah rangsangan atau stimulus yang ia dapatkan.
2.      Faktor  pemungkin, faktor faktor ini mencakup ketersedian sarana dan prasarana atau fasilitas sebagai penunjang terjadinya sebuah perilaku yang terjadi pada seseorang tersebut.
3.      Faktor penguat, Faktor-faktor penguat ini meliputi faktor sikap dan prilaku tokoh masyarakat, tokoh agama, sikap dan perilaku dari peran role dari seseorang yang membuatnya menirukan apa yang mereka lakukan semuanya.[5]












BAB II
INDIVIDU

A.  Manusia Sebagai Individu
            Kata “individu” berasal dari kata latin yakni individum, yang memiliki arti “yang tak terbagi”, jadi merupakan sesuatu sebutan yang dapat dipakai untuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan terbatas, individu bukan berarti manusia sebagai suatu keseluruhan yang tak dibagi, melainkan sebagai kesatuan yang terbatas yaitu sebagai manusia perorangan sehingga sering disebut “orang seorang” atau “manusia perorangan”, individu dalam hal ini adalah seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan-peranan yang khas didalam lingkungan sosialnya melainkan juga mempunyai kepribadian serta pola tingkah laku spesifik tentang dirinya, akan tetapi dalam banyak hal ada pula persamaan yang spesifik tentang dirinya dengan orang lain[6].
            Timbulnya perbedaan manusia perseorangan dengan lainnya bukan hanya disebabkan oleh pembawaan saja akan tetapi juga melalui konteks dengan dunia yang telah mempunyai sejarah dengan peradabannya, seperti Bahasa, agama, budaya, adat-istiadat dan kebiasaan, norma, ilmu pengetahuan dan sebagainya. Semua aspek itu akan dilaluinnya oleh setiap individu untuk menuju kedewasaan atau kematengannya.
            Betapapun besarnya pengaruh lingkungan sosial terhadap individu, individu tetap mempunyai watak dan sifat tertentu didalam hubungannya dengan manusia lain. Watak seorang individu lebih menjerumus kearah tabiat-tabiat yang dapat disebut benar atau salah, sesuai atau tidak sesuai dengan norma-norma sosial yang diakui. Jadi watak berkenaan dengan kecenderungan pernilaian tingkah laku individu berdasarkan standar-standar moral atau etika. Kekuatan-kekuatan yang ada pada diri individu biasanya sering dipakai untuk bertindak, bahkan kadang-kadang kelebihan, kekuatan dari ukuran rata-rata orang lain sering dipakai umtuk menindak pihak lain.
            Manusia sebagai makhluk individu memiliki unsur jasmani dan rohani, unsur fisik dan psikis, unsur raga dan jiwa. Seorang individu adalah perpaduan antara faktor genotype dan fenotipe. Faktor genotype adalah factor yang dibawah individu sejak lahir, ia merupakan factor keturunan yang dibawah sejak lahir. Kepribadian adalah keseluruhan perilaku individu yang merupakan hasil interaksi antara potensi-potensi biopsikofisikal (fisik dan psikis) yang terbawa sejak lahir dengan rangkaian situasi lingkungan, yang terungkap pada tindakan dan perbuatan serta reaksi mental psikologisnya, jika mendapat rangsangan dari lingkungan.[7]
Menurut George Herbert Mead ada tahap-tahap untuk melihat terbentuknya seseorang yang pertama, play stage dimana seorang anak kecil mulai belajar mengambil peranan orang dewasa lain dengan siapa ia berinteraksi. Kedua game stage dimana seorang anak tidak hanya telah mengetahui peranan yang harus dijalankannya, tetapi telah mengetahui peranan yang harus dijalankan oleh orang lain dengan siapa ia berinteraksi. Pada tahap ketiga sosialisasi dimana seseorang dianggap telah mampu mengambil peranan-peranan yang dijalankan orang lain dalam masyarakat mampu mengambil peranan generalized others.[8]
            Selama perkembangan manusia menjadi individu, ia pun mengalami bahwa kepada dirinya dibebani berbagai peranan. Peranan-peranan ini terutama dari kondisi kebersamaan hidup dengan sesama manusia yang disebut makhluk sosial. Tidak jarang dapat timbul konflik pada diri individu, karena tingkah laku yang spesifik dalam dirinya bercorak atau bertentangan dengan peranan yang dituntut oleh masyarakat. Kalau individu tidak ingin mengingkari dirinya sendiri dan bertingkah laku menurut pola pribadinya, maka ia pun disebut ‘menyimpang dari norma koektif’. Sebaliknya, jika ia takluk dan menuruti kehendak kolektif dengan cara bertingkah laku seperti apa yang di inginkan oleh lingkungan, maka disebut  ‘kehilangan individualitasnya’.
            Dalam perkembangannya, manusia sebagai makhluk individu tidak bermakna kesatuan jiwa dan raga, tetapi akan menjadi khas dengan corak kepribadiannya.
            Sebagai makhluk individu manusia memiliki keunikan tersendiri yang membedakannya dari manusia lainnya. Dalam pandangan ini, manusia menjadi individu yang tidak dapat dipandang sama, karena secara kodrati setiap manusia diciptakan unik dan berbeda satu dengan yang lain. Berikut rincian dalam memandang keunikan yang dimiliki manusia:
a)      Setiap manusia mempunyai kemampuan berfikir (kognis), persatuan (afeksi), kehendak (konasi), dan tindakan (aksi).
b)      Setiap manusia memiliki kemampuan khas yang akan mempengaruhi kualitas hidupnya berupa, pengetahuan, keterampilan dan sikap.
c)      Setiap manusia mempunyai budaya tertentu sesuai dengan latar belakang, kapasitas dan lingkungannya.
d)     Bahwa setiap manusia mempunyai hak dan kewajiban yang terkait dengan pihak lain.[9]

B.  Pandangan-pandangan manusia sebagai makhluk individu
1.      Pandangan nativistik menyatakan bahwa pertumbuhan individu semata-mata ditentukan atas dasar factor dari dalam individu sendiri, seperti bakat dan potensi, termasuk pula hubungan atau kemiripan dengan orang tuanya.
2.      Pandangan empiristik menyatakan bahwa pertumbuhan individu semata-mata didasarkan atas factor lingkungan. Lingkunganlah yang akan menentukan pertumbuhan seseorang. Pandangan ini bertolak  belakang dengan pandangan nativistik.
3.      Pandangan konvergensi yang menyatakan bahwa petumbuhan individu yang dipengaruhi oleh faktor diri individu dan lingkungan. Pandangan ini berupaya menggabungkan kedua pandangan sebelumnya.[10]
            Sebagai makhluk individu, manusia memerlukan pola tingkah laku yang bukan merupakan tindakan instingtif belaka. Manusia yang bisa dikenal dengan homo sapiens memilki akal pikiran yang dapat digunakan untuk berfikir dan berlaku bijaksana. Dengan akal tersebut, manusia dapat mengembangkan potensi-potensi yang ada didalam dirinya seperti, karya, cipta, dan karsa. Dengan mengembangkan potensi-potensi tersebut manusia mampu mengembangkan dirinya sebagai manusia seutuhnya yaitu makhluk ciptaan tuhan yang paling sempurna.
            Sebagai makhluk individu manusia mempunyai suatu potensi yang akan berkembang jika disertai dengan Pendidikan. Melalui Pendidikan, manusia dapat menggali dan mengoptimalkan segala potensi yang ada pada dirinya. Melalui Pendidikan pula manusia dapat mengembangkan ide-ide yang ada dalam pikirannya dan menerapkannya dalam kehidupannya sehari-hari yang dapat meningkatkan kualitas hidup manusia itu sendiri.[11]
            Dalam Pendidikan kewarga-negaraan, syarat akan materi-materi untuk mengaplikasikan pengembangan pribadi manusia, sebagai makhluk individual. Materi hak asasi manusia (HAM) merupakan salah satu bentuk pengakuan Pendidikan kewarga-negaraan tentang adanya perbedaan prinsip tiap individu, yang harus dihormati orang lain. Hak asasi manusia adalah hak yang dimiliki oleh setiap individu merupakan pemberian dari tuhan.
            Perbedaan individu baik secara fisik maupun psikis merupakan ciri khas setiap insan yang unik, yang membedakan makhluk manusia dengan yang lainnya. Dalam pembelajaran Pendidikan kewarga-negaraan rasa menghormati dan menghargai setiap individu merupakan moral universal yang diajarkan dan dikembangkan.[12]
            Dalam penerapanya, masing-masing individu memiliki karakter, kemampuan, dan pola fikir yang berbeda-beda. Terbentuknya manusia secara individu melalui beberapa proses pertumbuhan/evolusi, seperti proses dalam lingkungan keluarga, baik secara etika, estetika dan moral agama.
            Disamping ini ada dampak positiv dan negativ dari manusia yang hidup secara individu, sebagai berikut,
1.      Dampak positiv
a)      Dapat melakukan sesuatu kegiatan secara mandiri.
b)      Tidak mudah terpengaruh oleh orang lain.
c)      Tidak terikat dalam aturan/norma suatu kelompok.
2.      Dampak negativ
a)      Tidak dapat mengembangkan kemampuan/ilmu pengetahuan.
b)      Tidak mendapatkan kepercayaan dari orang lain.
c)      Sulit dalam melakukan suatu kegiatan secara jamak.

C.    Berbagai aspek relasi individu dengan lingkungan sosial
1.      Relasi individu dengan keluarga
            Sejak kehadirannya dimuka bumi, manusia sebagai makhluk individu memiliki relasi-relasi mutlak dengan kesatuan sosial yang bernama keluarga. Ia dilahirkan dari keluarga, tumbuh dan berkembang, untuk kemudian membentuk sendiri keluarga batinnya. Nilai-nilai yang dimiliki oleh individu dan berbagai peranan yang diharapkan dilakukan oleh individu, semuanya berawal dari dalam lingkungan keluarga sendiri. Dengan orang tua dan saudara-saudara sekandung terjalin relasi biologic, kemudian disuse oleh relasi psikologik dan sosial pada umumnya. Relasi-relasi diatas dinyatakan melalui Bahasa, adat kebiasaan yang berlaku.




2.      Relasi individu dengan Lembaga
            Kelembagaan sosial merupakan keutuhan tatanan perilaku manusia dalam hidup Bersama di dalam masyarakat. Tumbuhnya individu ke dalam Lembaga-lembaga sosial berlangsung melalui proses sosialisasi, sebab proses tersebut mengandung arti bahwa Lembaga-lembaga masyarakat yang berada di dalam lingkungan individu makin disadari olehnya sebagai realitas-realitas objektif. Posisi dan peranan individu didalam setiap kelembagaan sosial pada umumnya sudah ditetapkan, yaitu berdasarkan moral, adat atau hukum yang berlaku.
3.      Relasi individu dengan komunitas.
            Cohen menyatakan bahwa komunitas dapat didefinisikan sebagai kelompok khusus dari orang-orang yang tinggal dalam wilayah tertentu, memiliki kebudayaan dan gaya hidup yang sama, sadar sebagai satu-kesatuan, dan dapat betindak secara kolektif dalam usaha mereka untuk mencapai tujuan yang sama. Contoh-contoh komunitas misalnya, kota desa, rukun tetangga dan wilayah-wilayah metropolitan, poplin menyatakan bahwa komunitas diartikan sebagai satuan kebersamaan hidup sejumlah orang banyak, yang memiliiki ciri-ciri:
a.       Terotilitas yang terbatas
b.      Keorganisasian tata kehidupan Bersama
c.       Belakunya nilai-nilai dan orientasi nilia yang kolektif.
            Makna kehidupan dalam komunitas turut ditentukan oleh orientasi nilai yang berlaku di dalam komunitas itu. Aspek ebudayaan misalnya, turut menentukan pranata sosial, struktur kerabat keluarga dan perilaku individu maupun kolektif. Posisi yang dialami individu yang ada dalam komunitas tidak seperti didalam keluarga, ia tidak lagi bersifat langsung, sebab dampak tingkah lakunya bertampung oleh keluarga dan kelembagaan yang mencakup dirinya. Dengan ini demikian dapatlah dikatakan bahwa keluarga dan Lembaga-lembaga didalam sebuah komunitas dapat dipandang sebagai wahana sosialisasi atau penyebar ide-ide kebudayaan.
4.      Relasi individu dengan  masyarakat
            Masyarakat merupakan satuan lingkungan sosial yang bersifat makro sebab terdiri dari sekian banyak komuniti, dan masing-masing komuniti dengan karakteristik yang berbeda. Relasi individu dengan masyarakat ini lebih bersifat sebagai “abstraksi” lain dengan sebuah komunitas, keluarga atau Lembaga, dimana relasi individu lingkungan sosial lebih terbatas kongkrit sifatnya.
5.      Relasi individual dengan kebangsaan
            Menurut Ernest Renan(1823-1892) menyatakan bahwa nasion (kebangsaan) adalah suatu jiwa, suatu solidaritas yang besar yang terbentuk dari perasaan yang timbuk sebagai akibat pengorbanan yang telah dibuat dan dalam masa depan juga bersedia lagi.
            Relasi individu dengan kebangsaannya dinyatakan pula dengan serta peranan-peranan yang ada pada dirinya, tetapi yang kesemuanya itu tertampung melalui unit-unit lingkungan sosial yang lebih mikro.[13]



D.    Karakteristik individu
       Karakteristik individu ini di ukur dengan menggunakan indikator minat, sikap, terhadap diri sendiri, pekerjaan, dan situasi pekerjaan, kebutuhan individual, kemampuan dan kompetensi, pengetahuan tentang pekerjaan, dan emosi, suasana hati, perasaan, keyakinan dan nilai-nilai. Setiap orang mempunyai pandangan, tujuan, kebutuhan, dan kemampuan yang berbeda satu sama lain. Pebedaan ini akan terbawa dalam dunia kerja, yang menyebabkan motivasi kerja satu orang dengan yang lain.[14]
      Manusia sebagai individu memiliki karakteristik yang unik dan berbeda-beda yaitu,
1.      Openness to Experience: yaitu karakteristik individu yang terbuka terhadap pengalaman baru, baik berupa ide maupun imajinasi. Umumnya individu yang memiliki karakter ini suka berpikir secara mendalam, cerdik, kreatif, artistik, memiliki rasa penasaran tinggi, inovatif, dan sering merefleksikan diri.
2.      Conscientiousness: yaitu karakteristik individu yang sangat berhati-hati dan penuh pertimbangan dalam melakukan suatu tindakan. Umumnya individu dengan karakter ini memiliki disiplin yang tinggi, rajin, dapat diandalkan, bertanggungjawab, serta bekerja dengan cermat dan terperinci.
3.      Extraversion: yaitu karakteristik individu yang terbuka dan nyaman bila berinteraksi dengan orang lain. Umumnya individu dengan karakter ini senang bergaul, ramah, antusias, mudah bersosialisasi, dan tegas.
4.      Agreeableness: yaitu karakter individu yang kooperatif dan selalu ingin menghindari konflik terbuka dengan orang lain. Umumnya individu dengan karakter ini suka menolong, tidak egois, bisa dipercaya, penuh perhatian, dan tidak menyukai perselisihan.
5.      Neocritism: yaitu karakteristik individu yang terbuka terhadap tekanan dan menilai kemampuan seseorang dalam menahan stress.[15]

E.     Perilaku Manusia Sebagai Individu
            Pola perilaku manusia dalam suatu lingkungan adalah hasil dari proses interaksi manusia dengan lingkungannya yang melibatkan emosional individual dan sosial. Dalam menganalisa terhadap privasi dan kebutuhan sosialnya tersebut diperlukan pendekatan melalui seting perilaku. Konsep ini mengacu pada seting perilaku yang terdiri dari 3 komponen, diantaranya fisik(desain), sosial(penggunaan) dan budaya.[16]
            Faktor individual adalah faktor yang berasal dari dalam diri sesorang. Faktor individual terdiri dari tingkat kemauan, tingkat kemampuan, tingkat kesempatan. Ketiganya merupakan persyaratan umum dalam masyarakat.[17]
1.      Tingkat kemauan
            Keterkaitan/minat terhadap kegiatan sebagian responden adalah rendah,sedang,tinggi terhadap kegiatan yang berada di lingkungan masyarakat.
2.      Tingkat kemampuan
            Daya yang dimiliki responden sehingga responden mampu untuk berpartisipasi dalam kegiatan. Tingkat kemampuan responden diukur dari tingkat Pendidikan dan tingkat keterampilan responden terhadap kegiatan.
3.      Tingkat kesempatan
            Peluang yang dimiliki responden dengan adanya peluang, maka responden dapat berpartisipasi dalam kegiatan.
F.   Hakikat Perkembangan Individu
            Pertumbuhan sering dikaitkan dengan pertumbuhan yang terjadi secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada diri individu dalam waktu tertentu. Sedangkan perkembangan menurut kartono, merupakan perubahan psikofisis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi psikis dan fisis yang ditunjang oleh faktor lingkungan dan proses belajar pada waktu tertentu menuju kedewasaan.[18]
            Sedikitnya ada empat instilah yang berdekatan bahkan saling terkait pengertiannya, pertama pertumbuhan, kedua perkembangan, ketiga kematangan, keempat perubahan.[19]

1.      Pertumbuhan (growth)
      Dalam perkembangan maka terjadi pula yang Namanya sebuah pertumbuhan. Istilah pertumbuhan ini merupakan sebuah kata yang digunakan dalam ilmu biologi oleh sebab  itu dalam memahami akan lebih bersifat biologis.
      Jadi pertumbuha ialah suatu perubahan secara biologi yang dialami oleh makhluk hidup yaitu berupa pertambahan ukuran, baik volume, bobot, maupun jumlah sel yang bersifat irreversible. Pertubaha yang bersifat irreversible ini maksudnya suatu perubahan yang tidak dapat kembali ke semula.
2.      Perkembangan (development)
      Perkembangan ialah perubahan yang terjadi selama proses pertumbuhan menuju keadaan yang lebih dewasa disbanding sebelumya sehingga terbentuk organ-organ yang telah mengalami pertumbuhan.
      Dengan ini bahwa sejak lahir sampai masa meninggal seorang individu tidak pernah statis, melainkan senantiasa mengalami perubaha-perubahan yang berifat progesif dan berkesinambungan.
3.      Kematangan (maturation)
      Setiap individu pasti mengalami pertumbuhan atau perkembangan jika tidak, maka ia tidak akan berfungsi atau mati. Dengan kata lain dapat dijelaskan bahwa kematangan terlihat dari kemampuan seseorang untuk memahami, menghayati, serta mengaplikasikan nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari. Atau bisa juga dikatakan bahwa kematangan (maturity) adalah kemampuan untuk mengendalikan diri dan tidak mudah terpancing oleh reaksi yang provokatif, yang ditandai dengan :
a)      Bertahan untuk tidak implusif
b)      Mengendalikan emosi (rasa marah, frustasi dll)
c)      Mampu berespon secara kalem dalam situasi frustasi
d)     Mampu mengelola stres secara efektif
e)      Mengendalikan emosi negative dan bertindak secara konstruktif untuk mencari penyelesaianny
f)       Mampu menenangkan orang lain disamping menenangkan diri sendiri
4.      Perubahan (change)
      Baik dalam sebuah proses perkembangan, pertumbuhan, maupun kedwasaan setiap individu selalu mengalami perubahan didalamnya. Konsep perubahan dalam perkembangan menjelaskan bahwa setiap perubahan yang ada dalam individu baik dalam hal fisik, pola pikir maupun kedewasaan itu sendiri adalah bagian penting yang mau tidak mau akan dilalui oleh setiap manusia sebagai sesuatu berkesinambungan.





BAB III
KELUARGA
A.    Manusia Sebagai Keluarga
      Keluarga adalah merupakan kelompok primer yang paling penting didalam masyarakat. Keluarga merupakan sebuah group yang terbentuk dari perhubungan laki-laki dan wanita, perhubungan itu sedikit banyak berlangsung lama untuk menciptakan dan membesarkan anak-anak. Jadi keluarga dalam bentuk yang murni merupakan satu kesatuansosial yang terdiridarisuami-istridananak-anak yang belumdewasa.[20]
                  Para ahli antropologi melihat keluarga sebagai suatu kesatuan social terkecil yang dipunyai oleh manusia sebagai makhluk sosial. Pendapat ini di dasarkan atas kenyataan bahwa sebuah keluarga adalah suatu kesatuan kekerabatan yang juga merupakan satuan tempat tinggal yang ditandai oleh adanya kerjasama ekonomi, dan mempunyai fungsi untuk berkembang biak, mensosialisasikan atau mendidik anak, menolong serta melindungi yang lemah khususnya merawat orang-orang tua mereka yang telah jompo.
Dalam bentuk yang paling dasar, sebuah keluarga terdiri atas seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan ditambah dengan anak-anak mereka yang biasanya tinggal dalam satu rumah yang sama. Satuan satu kelompok seperti itu dalam antropologi dinamakan sebagai keluarga inti. Suatu keluarga ini pada hakekatnya terbentuk oleh adanya suatu hubungan perkawinan yang sah, tetapi tidak selamanya keluarga inti terwujud hanya karena telah disahkan oleh suatu peraturan perkawinan.
            Suatu keluarga inti dapat juga terwujud karena seorang laki-laki dan seseorang perempuan mengadakan hubungan kelamin secarapermanen tanpa melalui suatu pengesahan perkawinan dan tinggal Bersama dalam satu rumah dengan anak-anaknya, mereka sehingga merupakan suatu kesatuan sosial. Di beberapa tempat di Indonesia hubungan perkawinan seperti itu dinamakan kawin bakupiara, kawin kerbau (kumpul kebo), dalam beberapa waktu yang lalu sekitar tahun 1985-1986, kawin seperti ini sangat gencar diberitakan dalam beberapa surat kabar, baik pusat maupun daerah, dan masalah ini telah juga terungkap oleh hasil penelitian mahasiswa yang dilakukan di Yogyakarta. Tentu permasalahan ini digabukan  hanya terjadi di Yogyakarta saja tetapi ditempat-tempat lainnya di Indonesia.
            Walaupun secara garis besar keluarga inti ini terdiri dari suami istri dan anak mereka di dalam satu rumah, tetapi dalam hal-hal tertentu pengertian ini tidak dapat dipakai. Dalam kenyataannya, ada sejumlah masyarakat yang keluarga intinya tidak lengkap, yaitu  karena tidak ada suami atau istri yang hidup Bersama dalam satu rumah. Dalam keluarga yang tidak lengkap ini, suamilah yang biasanya tidak hidup Bersama dalam rumah tersebut bukan si istri. Dalam beberapa hal, biasanya disebabkan oleh alasan factor ekonomi.
                Dari pengertiannya, dapat diambil kesimpulan bahwa keluarga adalah:
5.      Unit terkecildarimasyarakat
6.      Terdiridariatas 2 orang ataulebih
7.      Adanyaikatanperkawinanataupertaliandarah
8.      Hidupdalamsaturumahtangga
9.      Di bawahasuhanseseorangkepalarumahtangga
10.  Berinteraksidiantarasesamaanggotakeluarga
11.  Setiapanggotakeluargamempunyaiperanmasing-masing

B.     Proses Terbentuknya Keluarga
a.      Tahap Pre-Nuptual
            Tahap ini merupakan tahap persiapan sebelum di langsungkannya perkawinan sesuai dengan adat, kebiasaan, tata nilai, dan aturan dalam masyarakat yang bersangkutan. Bentuknya misalkan dapat berupa pelamaran, pertunangan, penentuan hari perkawinan, dan lain-lain. Orang yang akan melangsungkan perkawinan harus memenuhi segala persyaratan baik materil maupun non-materil. Materil berkaitan dengan maskawin, dan sebagainnya. Sedangkan non-materil biasannya berkaitan dengan persiapan psikis individu yang akan melangsungkan pernikahan.

b.      Tahap Nuptual Stage
            Tahap ini merupakan tahap inti di langsungkannya perkawinan yang berupa kesepakatan hidup Bersama untuk membina sebuah keluarga sesuai dengan apa yang di cita-citakan.

c.       Tahap Child Rearing Stage
            Tahap ini merupakan proses pemeliharaan anak-anak sebagai tanggung jawab dari  sebuah keluarga untuk membesarkan dan mendewasakan anak-anak, sehingga tercapai tujuan keluarga yang Bahagia sesuai dengan tujuan yang diharapkan.




d.      Tahap Muturity Stage
            Tahap ini merupakan tahap lanjut dimana anak-anak mereka dari buah perkawinan sudah melangka dewasa dan siap untuk melangsungkan perkawinan membentuk keluarga baru.



C.    Fungsi Keluarga
a.       Pembentukan kepribadian. Orang tua memberi dasar kepribadian kepada anak-anaknya dengan tujuan untuk memproduksikan serta melestarikan kepribadian mereka.
b.      Alat reproduksi kepribadian-kepribadian yang berakar pada etika, estetika dan moral keagamaan dan kebudayaan yang berkorelasi fungsional
c.       Keluarga merupakan eksponen kebudayaan masyarakat keluarga adalah jenjang dan perantara pertama dalam transimisi kebudayaan.
d.      Sebagai perkumpulan perekonomian pusat pengasuhan dan pendidikan.

D.    Tugas Pokok Keluarga
a)      Memelihara fisik keluarga
b)      Pemeliharaan sumber daya yang ada dalam keluarga
c)      Pembagian tugas anggota keluarganya sesuai peranannya masing-masing
d)     Sosialisasi anggota keluarga
e)      Pengaturan jumlah anggota keluarga
f)       Penempatan anggota keluarga dalam masyarakat
g)      Membangkitkan dorongan dan menyemangatkan para anggota keluarganya.

E.     Faktor-Faktor Terbentuknya Keluarga
          Sebenarnya asal mula keluarga sangat bervariasi, karena keinginan dan kebutuhan manusia berbeda dalam lingkungan yang berbeda, sehingga akan melahirkan berbagai bentuk sistem keluarga.
1.      Dorongan Seks
-          Keinginan untuk mendapatkan keturunan sehingga dapat menopang hari tua.
2.      Reproduksi
-          Bagi makhluk hidup terutama manusia adalah untuk melestarikan jenisnya agar jenisnya tidak mengalami kepunahan.
3.      Ekonomi
-          Mencari dan memperoleh sumber-sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
-          Pengaturan pada siklus keuangan keluarga.
-          Menyisihkan dana untuk kepentingan masa depan.[21]




BAB IV
MASYARAKAT
A.    Manusia Sebagai Masyarakat
    Para ilmuwan di bidang sosial sepakat tidak ada definisi tunggal tentang masyarakat dikarenakan sifat manusia selalu berubah dari waktu ke waktu. Pada akhirnya, pada ilmuwan tersebut memberikan definisi yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Berikut ini beberapa definisi masyarakat menurut pakar sosiologi:
1.  Selo Soemardjan mengartikan masyarakat sebagai orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan.
2.  Max Weber mengartikan masyarakat sebagai struktur atau aksi yang pada pokoknya ditentukan oleh harapan dan nilai-nilai yang dominan pada warganya.
3.  Emile Durkheim mendefinisikan masyarakat sebagai kenyataan objektif individu-individu yang merupakan anggota-anggotanya. Kehidupan sebuah masyarakat merupakan sebuah sistem sosial di mana bagian-bagian yang ada di dalamnya saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya dan menjadikan bagian-bagian tersebut menjadi suatu kesatuan yang terpadu. Manusia akan bertemu dengan manusia lainnya dalam sebuah masyarakat dengan peran yang berbeda-beda, sebagai contoh ketika seseorang melakukan perjalanan wisata, pasti kita akan bertemu dengan sebuah sistem wisata antara lain biro wisata, pengelola wisata, pendamping perjalanan wisata, rumah makan, penginapan dan lain-lain. Adapun soerjono soekanto mengemukakan bahwa ciri-ciri kehidupan masyarakat adalah:
(a)    Manusia yang hidup bersama-sama sekurang-kurangnya terdiri dari dua orang individu.
(b)   Bercampur atau bergaul dalam waktu yang cukup lama.
(c)    Menyada ri kehidupan mereka merupakan satu kesatuan.
(d)   Merupakan sistem bersama yang menimbulkan kebudayaan sebagai akibat dari perasaan saling terkait antara satu dengan lainnya.[22]
Jelasnya Masyarakat adalah suatu kelompok manusia yang telah memiliki tatanan kehidupan, norma-norma, adat istiadat yang sama-sama ditaati dalam lingkungannya.
Tatanan kehidupan, norma-norma yang mereka miliki itulah yang menjadi dasar kehidupan sosial dalam ling kungan mereka, sehingga dapat membentuk suatu kelompok manusia yang memiliki ciri-ciri kehidupan yang khas. Dalam lingkungan itu, antara orang tua dan anak, antara ibu dan        ayah, antara kakek dan cucu, antara sesama  kaum laki-laki atau sesama kaum wanita, atau antara kaum laki-laki dan kaum wanita, larut dalam suatu kehidupan yang teratur dan terpadu dalam suatu kelompok manusia, yang disebut masyarakat.
Dalam pertumbuhan dan perkembangan suatu masyarakat, dapat digolongkan menjadi masyarakat sederhana dan masyarakat maju (masyarakat modern).
1.      Masyarakat sederhana
      Dalam lingkungan masyarakat sederhana (primitif) pola pembagian kerja cenderung dibedakan menurut jenis kelamin. Pembagian kerja dalam bentuk lain tidak terungkap dengan jelas, sejalan dengan pola kehidupan dan pola perekonomian masyarakat primítif atau belum sedemikian rupa seperti pada masyarakat maju. Pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin, nampaknya berpangkal tolak dari latar belakang adanya kelemahan dan kemampuan fisik antara seorang wanita dan pria dalam menghadapi tantangan-tantangan alam yang buas pada saat itu. Berburu atau menangkap ikan di laut misalnya, merupakan pekerjaan berat yang menuntut keberanian, ketrampilan serta kemampuan daya tahan fisik yang kuat. Oleh karena itu, kedua bidang pekerjaan ini tercatat sebagai monopoli pekerjaan kaum lelaki, di samping pekerjaan-pekerjaan lain, misalnya menebang pohon, mempersiapkan serta membersihkan lahan pertanian untuk berladang, dan memelihara ternak besar. Mengurus rumah tangga, menyusui, dan mengasuh anak-anak, merajut membuat pakaian, dan bercocok tanam adalah pekerjaan orang perempuan. Demikian maka kaum wanita tidak saja mengurus anak-anak tetapi juga membuat barang barang anyaman, seperti keranjang, dan mengumpulkan sayuran liar, buah buahan, dan binatang-binatang kerang. Kalau pada saat mengolah tanah pertanian (ladang atau kebun) dikerjakan bersama-sama, maka pekerjaan yang berat seperti: membuka lahan, menyingkirkan pohon-pohon yang tumbang, dikerjakan oleh orang laki-laki. Kaum wanita mengerjakan yang ringan-ringan misalnya, menyebar benih, menyiangi rumput rena dirasakan perlu menambahkan tenaga kerja, ada kalanya pada beberapa masyarakat primitif, seorang isteri meminta kepada suaminya supaya mengambil seorang isteri lain untuk meringankan pekerjaan rumah tangganya. Pada suku Nehe, jika seorang laki-laki mempunyai lebih banyak isteri, dia terhindar dari pekerjaan pertanian yang sangat berat. Dengan latar belakang seperti itu, jelas bahwa antara sang suami dengan sang isteri, dan antara sesama isteri, terjadi pembagian kerja dengan kesepakatan yang dapat diterima satu sama lain.
2.      Masyarakat maju
      Masyarakat maju memiliki aneka ragam kelompok sosial, atau lebih akrab dengan sebutan kelompok organisasi kemasyarakatan yang tumbuh dan  berkembang berdasarkan kebutuhan serta tujuan tertentu yang akan dicapai organisasi kemasyarakatan itu dapat tumbuh dan berkembang dalam lingkungan terbatas sampai pada cakupan nasional, regional maupun internasional. Dalam lingkungan masyarakat maju, dapat dibedakan sebagai kelompok masyarakat non industri dan masyarakat industri.
(1)   Masyarakat Non Industri
Secara garis besar, kelompok nasional atau organisasi ke masyarakat non industri dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu kelompok primer (primary group) dan kelompok sekunder (secondary group).
(a)    Kelompok primer
Dalam kelompok primer, interaksi antar anggota terjalin lebih intensif, lebih erat, lebih akrab. Kelompok primer ini disebut juga kelompok "face to face group", sebab para anggota kelompok sering berdialog, bertatap muka, karena itu saling mengenal lebih dekat, lebih akrab. Sifat interaksi dalam kelompok-kelompok primer bercorak kekeluargaan dan lebih berdasarkan simpati. Pembagian kerja atau pembagian tugas pada kelompok menerima serta menjalankan tugas tidak secara paksa, lebih dititik beratkan pada kesadaran, tanggung jawab para anggota dan berlangsung atas dasar rasa simpati dan secara sukarela.
Contoh-contoh kelompok primer, antara lain : keluarga, rukun tetangga, kelompok belajar, kelompok agama, dan lain sebagainya.

(b)   Kelompok sekunder
Antara anggota kelompok sekunder, terpaut saling hubungan tak langsung, formal, juga kurang bersifat kekeluargaan. Oleh karena itu, sifat interaksi, pembagian kerja, pembagian kerja antar anggota kelompok diatur atas dasar pertimbangan-pertimbangan rasional, obyektif. Para anggota menerima pembagian kerja/pembagian tugas atas dasar kemampuan, keahlian tertentu, di samping dituntut dedikasi. Hal-hal semacam itu diperlukan untuk mencapai target dan tujuan tertentu yang telah di flot dalam program-program yang telah sama-sama disepakati.
Contoh-contoh kelompok sekunder, misalnya partai politik, perhimpunan serikat kerja/ serikat buruh, organisasi profesi dan sebagainya.
(2)   Masyarakat industri
Durkheim mempergunakan variasi pembagian kerja sebagai dasar untuk mengklasifikasikan masyarakat, sesuai dengan taraf perkembangannya. Akan tetapi ia lebih cenderung mempergunakan dua taraf klasifikasi, yaitu yang sederhana dan yang kompleks. Masyarakat-

masyarakat yang berada di tengah kedua ekstrem tadi diabaikannya.
Jika pembagian kerja bertambah kompleks, suatu tanda bahwa kapasitas masyarakat semakin tinggi. Solidaritas didasarkan pada hubungan saling ketergantungan antara kelompok-kelompok masyarakat yang telah mengenal pengkhususan. Otonomi sejenis, juga menjadi ciri dari bagian/kelompok-kelompok masyarakat industri. Otonomi sejenis dapat diartikan dengan kepandaian/keahlian khusus yang dimiliki seseorang secara mandiri, sampai pada batas-batas tertentu.
Contoh-contoh tukang roti, tukang sepatu, tukang bubut, tukang las, ahli mesin, ahli listrik dan ahli dinamo, mereka dapat bekerja secara mandiri.














DAFTAR PUSTAKA
Adi Imam muhni,. Djuretna,,ManusiaMenurut Ortega Y.      Gasset,Jurnal   FilsafatUniversitas Gadjah Mada,Mei            1996.

Ahmadi, A.2003, Ilmu Sosial Dasar, Jakarta: PT RinekaCipta,

Azmi, Shofiyatul,. Pendidikan KewarganegaraanMerupakan          Salah Satu             PengejawantahanDimensiManusia    SebagaiMakhlukIndividu,        Sosial, Susila, dan       MakhlukReligi,  JurnalIlmiah. Fakultas Keguruan        dan Ilmu Pendidikan, Vol.18, No.1, hal 77-78.

Budiarti s, Meilanny,. MenguraiKonsep Dasar Manusia       SebagaiIndividu          MelaluiRelasiSosial Yang             Dibangunnya. Jurnal.unpad.ac.id.

Chairul Basrun Umanailo, M,. IlmuSosialBudaya Dasar,  Fam         Publishing.      Cet.I.2015, Cet.II.2016.

Etkariena, Arum,2018. PerbedaanPerilakuKerjaInovatif       BerdasarkanKarakteristikIndividuKaryawan,             https://doi.org/10.14710/jp/17.2.107-118. 

Dodi &DianataPramitasari,2018. AspekPerilaku        Manusia          Sebagai           MakhlukIndividu dan Sosial            Pada    RuangTerbukaPublik  .http://Journal.uinalaudin.ac.id.          
Hariyadi, S.2013, Perkembangan Individu,   https://www.researchgate.net/publication/323028558.

Hartono & Arnicum azis,2008. MKDU:ilmusosialdasar,       Jakarta:            PT.Bumi          Aksara,

Hantono,D & Pramitasari, D.2018, Aspek Perilaku Manusia             Sebagai            Makhluk Individu dan Sosial Pada    Ruang Terbuka            Publik, http://Journal.uin-       alaudin.ac.id.

Laurens, J.M.2004, Arsitektur dan perilaku manusia, Jakarta:           PT Grasindo.

Marcella Laurens, Joyce,2004.  Arsitektur dan perilaku         manusia,          Jakarta : PT     Grasindo.
Mujibburrahmad& firmansyah,2014. HubunganFaktor         Individu           dan Lingkungan          SosialDengan            Partisipasi       Masyarakat DalamPengolahanSampa           Rumah Tangga.             https://Media.neliti.com.Agrisep.vol.15.no.1.

Muhni, I.A.D., Manusia Menurut Ortega Y. Gasset, Jurnal Filsafat Universitas Gadjah Mada, 1996.

Nidawati, Variasi Individual DalamPembelajaran,    https://jurnal.ar-raniry.ac.id

Palupi, Tyas& Dian Ratna Sawitri,2017. Hubungan Antara Sikap   DenganPerilaku Pro-LingkunganDitinjaudari            Perspektif Theory Of   Planned Behavior, Jurnal        Proceeding Biology Education Conference   Biology,
Priyantono, Y.2014, Manusia Sebagai Makhluk Politik”, Jurnal       Agama Islam UMP.

Rahmad, M & Firmansyah.2014, Hubungan Faktor Individu           dan      Lingkungan Sosial Dengan Partisipasi Masyarakat      Dalam Pengolahan Sampah RumahTangga,   https://Media.neliti.com.
Setiawan, Andy & Tri Bodroastuti,. PengaruhKarakteristik Individu dan Faktor-FaktorPekerjaanTerhadap            Motivasi, https://Media.neliti.com.

Suhada, I.2016, Ilmu Sosial Dasar, Bandung: RosdaKarya.

Syafe’I, I., Hakikat Manusia Menurut Islam, Jurnal Ilmiah Psikologi UIN Sunan Gunung Djati,, 2012.
Tasmuji, dkk.2018, IAD, ISD, IBD, Surabaya: UIN Sunan Ampel.

Tejokusumo, Bambang,2014,..Dinamika Masyarakat Sebagai          SumberBelajar            IlmuPengetahuanSosial,Jurnal            Nasional UMP, Vol.3, No.1

Umanailo, M.C.B.2015, Ilmu Sosial Budaya Dasar, Fam Publishing.

Wahyu, R.2017, Ilmu Sosial Dasar, Bandung: Pustaka Setia.

yantono, Yogi,2014. manusiasebagaimakhlukpolitik,Jurnal   Agama Islam   UMP.

Sumber Internet







[1]Yogi Priyantono,”manusia sebagai makhluk politik”,Jurnal Agama Islam UMP,2014
[2]Djuretna Adi Imam muhni,”Manusia Menurut Ortega Y. Gasset”,Jurnal Filsafat Universitas Gadjah Mada,Mei 1996.
[3]Isop Syafe’I,”Hakikat Manusia Menurut Islam”,Jurnal Ilmiah Psikologi UIN Sunan Gunung Djati, Vol.V, No.1, 2012, 743-755.
[4] Tyas Palupi, Dian Ratna Sawitri,” Hubungan Antara Sikap Dengan Perilaku Pro-Lingkungan Ditinjau dari Perspektif Theory Of Planned Behavior”,Jurnal Proceeding Biology Education Conference Biology,Vol 14, No 1, 2017

[5]Joyce Marcella Laurens, Arsitektur dan perilaku manusia, (Jakarta : PT Grasindo,2004).
[6] Tasmuji,dkk, “IAD, ISD, IBD”, (Surabaya: UIN Sunan Ampel, Cet.8-9.2018-2019), hal.89.
[7] M.Chairul Basrun Umanailo, “Ilmu Sosial Budaya Dasar”, Fam Publishing. Cet.I.2015, Cet.II.2016.
[8]  Ibid 47-48.
[9] Meilanny Budiarti s, “Mengurai Konsep Dasar Manusia Sebagai Individu Melalui Relasi Sosial Yang Dibangunnya”. Jurnal.unpad.ac.id. Vol.4.No.1.Hal.1-140.
[10]Ibid 50.
[11] Nidawati, “Variasi Individual Dalam Pembelajaran”, https://jurnal.ar-raniry.ac.id.
[12] Shofiyatul Azmi, “Pendidikan Kewarganegaraan Merupakan Salah Satu Pengejawantahan Dimensi Manusia Sebagai Makhluk Individu, Sosial, Susila, dan Makhluk Religi”, Jurnal Ilmiah. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Vol.18, No.1, hal 77-78.
[13]Ibid.100-106.
[14] Andy setiawan & Tri Bodroastuti, “Pengaruh Karakteristik Individu dan Faktor-Faktor Pekerjaan Terhadap Motivasi”, https://media.neliti.com.
[16] Dodi Hantono,Dianata Pramitasari, “Aspek Perilaku Manusia Sebagai Makhluk Individu dan Sosial Pada Ruang Terbuka Publik”. http://Journal.uin-alaudin.ac.id. Vol.5.No.2.2018.Hal.85-93.
[17] Mujibburrahmad, firmansyah, “Hubungan Faktor Individu dan Lingkungan Sosial Dengan Partisipasi Masyarakat Dalam Pengolahan Sampah Rumah Tangga”. https://Media.neliti.com. Agrisep.vol.15.no.1.2014.
[18] Arum Etkariena, “Perbedaan Perilaku Kerja Inovatif Berdasarkan Karakteristik Individu Karyawan”, https://doi.org/10.14710/jp/17.2.107-118. 2018.
[19] Sigit Hariyadi, “Perkembangan Individu”, https://www.researchgate.net/publication/323028558. 2013.
[20] Hartono dan Arnicum azis, MKDU:ilmu sosial dasar,(Jakarta: PT.Bumi Aksara, Cet. VII. 2008), hal.79.
[21] https://slideplayer.info
[22] Bambang Tejokusumo,”Dinamika Masyarakat Sebagai Sumber Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial”,Jurnal Nasional UMP, Vol.3, No.1 ,2014, 38-43.


Komentar

  1. kerennn informasinya sangat membantu

    BalasHapus
  2. sangat lengkap sekali pembahsannya

    BalasHapus
  3. Detail bangett :)) menambah wawasan bangett nihhh

    BalasHapus
  4. Sangat bermanfaat dan sangat membantu

    BalasHapus
  5. Menarikk saya suka pembahasan yg di beri

    BalasHapus
  6. Alhamdulillah sangat membantu

    BalasHapus
  7. Penulisan sangat rapi dan mudah untuk dipahami

    BalasHapus
  8. MasyaAllah, sangat terperinci pembahasan nya, semoga kedepannya lebih baik lagi

    BalasHapus
  9. terimakasih artikel nya sangat membantu, baguss, sangat detail dan mudah difahami untuk pembaca

    BalasHapus
  10. Bagus, sangat menarik dan mudah dipahami serta bermanfaat bagi pembaca

    BalasHapus
  11. Bagus sekali dan bermanfaat 👍

    BalasHapus
  12. Alhamdulillah artikelnya sangat membantu, smoga bermanfaat barakallah

    BalasHapus
  13. Sangat bermanfaat sekali,
    Terimakasih kak atas ilmunya

    BalasHapus
  14. Alhamdulilah sangat bermafaat

    BalasHapus
  15. Dapat tambahan ilmu alhamdulillah

    BalasHapus
  16. Alhamdulillah dapet ilmu baru...jazak jazakillahh

    BalasHapus

Posting Komentar